The Commuter

Semenjak nonton trailer The Commuter, gue langsung excited banget sama film ini. Karna liat Frank Lampard Liam Neeson yang jadi aktor utamanya. Temanya juga ga jauh-jauh dari filmnya yang terdahulu. Misteri kriminal gitu. Dengan cerita yang agak berbeda.

Meskipun kita semua tau kalo Liam Neeson udah ga muda lagi, tapi aksinya di film ini ga bisa dipandang remeh. Dia tetep berantem selayaknya adegan berantem di film action. Dia jatoh, kepentok tiang, dihantamin palanya ke kaca, nyusruk ke bawah kursi, ditembak-tembakin juga, dll lah!

Jalan Cerita The Commuter

Cerita The Commuter diawali dengan sederhana. Sutradaranya tau gimana ngegambarin kegiatan monoton Michael MacCaulay (Liam Neeson). Michael yang seorang agen asuransi harus menjalani rutinitas yang sama setiap hari selama 10 tahun. Dari bangun pagi ngedengerin radio, sarapan sama istri dan anaknya dan berangkat kerja dianterin sama istri ke stasiun.

Saking monotonnya kegiatan Mike, orang-orang yang selalu se-kereta sama dia pasti akrab dan sering ngobrol. Mereka udah kaya tetangga sebelah rumah yang tiap hari ketemu. Padahal cuman sama-sama satu kereta doang. Istilah yang mereka pakai sama penumpang reguler adalah “pelaju”.

Monotonitas ini berubah secara mengejutkan ketika Mike dipecat secara sepihak oleh perusahaan tempat dia kerja. Padahal disaat bersamaan anaknya perlu biaya yang banyak untuk masuk kuliah. Posisinya terjepit sekarang. Dengan umur yang ga muda lagi, pasti kesulitan untuk dapat pekerjaan baru.

liam neeson

via moviemaxdigital.co.nz

Adegan pemecatan kaya gitu cukup ngeri buat gue yang karyawan kantoran dengan status kontrak kerjanya mau abis, peristiwa pemecatan itu semacam cerita horror hahaha. Dan gue rasa karyawan yang nonton film ini juga pasti ada kekhawatiran dikemudian hari dia yang bakal ada diposisi Mike. Tapi semoga aja ga.

Ketegangan film dimulai ketika Mike ditemui oleh wanita misterius bernama Joanna di dalam kereta. Entah darimana asalnya Joanna tau banyak soal kehidupan Mike dan seolah-olah punya mata dimana-mana sehingga Mike harus terpaksa melakukan misi yang hampir mustahil itu.

Imbalannya lumayan, $100.000 untuk Mike terbilang lumayan banyak untuk orang yang baru aja dipecat dari perusahaannya. Namun Mike harus mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk bisa menyelesaikan misi ini sebelum kereta mencapai tujuan akhirnya.

Yang Bagus di film The Commuter

Karna yang disuguhkan adegan aksi udah pasti bakal banyak adegan berantemnya. Yah walaupun gerakan Liam Neeson udah ga terlalu gesit kayak dulu lagi. Tapi kelemahan itu justru dimanfaatkan dengan baik oleh sutradaranya. Untuk nunjukkin sisi “manusia” seorang Mike yang terlihat di film. Mike justru banyak menerima pukulan oleh lawannya.

Rata-rata jagoan di film aksi selalu ga kena kalo dipukul, ga pernah luka. Seolah-olah dia superhero. Di The Commuter kalian ga akan ngeliat yang kaya gitu. Menurut gue bagus jadi penonton masih ngeliat tontonan yang make sense.

Pengambilan angle gambar yang ga biasa juga bikin film ini menarik. Sutradaranya pengen pamer kalo pengambilan gambar yang asik juga bisa dibikin di film laga. Dan katanya ada 1 adegan berantem yang diambil sekali take. Sayangnya gue ga tau adegan yang mana.

the commuter

via pop.inquirer.net

Pace The Commuter bisa dibilang lumayan cepet. Tapi director-nya bisa ngajakin penonton untuk ikutan nebak kira-kira siapa yang jadi penyebab ini semua. Jadi ga terlalu berasa cepet karna kita ikutan mikir bersama aktornya.

Tegang dari awal sampai akhir. Kita cuman dikasih kesempatan bernafas dikit aja waktu nonton film ini. Selebihnya kita siap-siap nahan nafas karna tegang yang terus menerus. Cape sih tapi emang seru banget untuk dinikmatin.

Tapi The Commuter Itu…

Meskipun gue bilang lebih humanis, bukan berarti film ini ga ada sisi absurdnya. Beberapa adegan menurut gue terlalu absurd untuk kejadian di dunia nyata. Agak kurang realistis aja gitu. Beberapa kali juga CGI-nya masih nampak kurang halus sekelebat terlihat di mata penonton.

Terlalu serius. Sebagai film laga yang penuh aksi, di The Commuter kurang banyak dialog-dialog komedi sebagai pelepas ketegangan.  Selayaknya film Liam Neeson yang terdahulu, hampir di seluruh film serius.

Pola yang sama dengan film Unknown. Banyak yang mengira kalo film ini bakal jadi semacam “Taken 4”-nya Liam, justru menurut gue lebi mirip Unknown. Kalo kalian udah pernah nonton film Unknown, pola alur film ini kurang lebih sama. Tapi tenang aja plot twist-nya beda, kok.

review film the commuter

via movie.mxdwn.com

Adegan yang sebagian besar di kereta inipun rada mirip sama film The Murderer On The Orient Express itu. Tapi bedanya kalo The Murderer yang dicari pembunuhnya, kalo The Commuter yang dicari… apa hayooo??

* * *

Film ini punya rating D (dewasa). Jadi ga boleh bawa anak kecil sama sekali. Karna bakal ada adegan bedarah-darah dan pembunuhan yang lumayan vulgar. Ga cocok untuk ditonton anak kecil. Dimohon pengertian untuk para orang tua dan kakek nenek yang mau bawa anak/cucunya nonton ke bioskop untuk ga milih film ini.

Buat kalian yang suka sama film aksi dan laga, The Commuter wajib untuk kalian tonton. Karna cukup worth it untuk menghabiskan waktu bersama orang terdekat dengan nonton film ini.

Semoga review film kali ini ngebantu kalian untuk nentuin film yang bakal ditonton. Buat kalian yang masih ragu mau nonton apa, dengan baca review film dari blog ini bisa dengan mudah menentukannya. Kalo terbantu dengan tulisan-tulisan di blog ini, sebarkan ke temen-temen kalian dong! Biar ga kalian doang yang dapet info seputar film yang lagi tayang di bioskop!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress SEO Plugin by SEOPressor
%d blogger menyukai ini: