GUNDALA

Ketika rilis resmi dari Bagian 1 Jagat Bumi Langit keluar, gue langsung excited banget! Secara, film superhero asli Indonesia udah lama banget ga keluar. Terakhir ada Wiro Sableng yang keluar tahun 2018 waktu itu. Setelah Wiro praktis hanya superhero dari Hollywood saja yang mewarnai.

review film gundala

Sekarang 2019, harapan itu muncul lagi. Rilisnya Jagat Sinema  Bumi Langit ini menumbuhkan harapan rentetan kemunculan kelahiran superhero lokal Indonesia. Gundala menjadi tonggak baru superhero Indonesia. Ketika perilisan resminya muncul, ada banyak nama-nama tidak asing yang memerankan Superhero di Jagat Sinema Bumi Langit ini.

Abimana Aryasatya (Gundala), Pevita Pearce (Sri Asih), Chiko Jericho (Godam), Tara Basro (Merpati), Hanna Al Rasyid (Camar), Chelsea Islan (Tira), Kelly Tandiono (Bidadari Mata Elang), Vanesha Priscilla (Cempaka), Joe Taslim (Mandala), Dian Sastro (Dewi Api) dan Nicholas Saputra (Aquanus).

Ada masih banyak lagi artis-artis bintang lainnya yang akan mengisi karakter di Jagat Sinemar Bumi Langit. Info terakhir ada Jefri Nichol (yang kemaren ketangkap karna kasus narkoba #menolaklupa) yang diberitain kalo akan masuk ke dalam BLCU (Bumi Langit Cinematic Universe). Masih belum tau dia akan meranin apa, kita liat aja.

REVIEW FILM GUNDALA

Alur cerita Gundala menurut saya cukup rapi penulisannya. Pendalaman karakter utama juga cukup bagus. Terutama cerita Sancaka waktu kecil. Gimana dia berjuang sendirian di ibukota karena ditinggal oleh ibunya dan harus di-bully oleh sesama pengamen di jalanan.

review film gundala

via cultura.id

Oh, btw ibunya Sancaka ini ternyata Marissa Anita, lho! Mantan news anchor Metro TV dan NET TV. News anchor favorit saya sampai sekarang! Hahaha.. Rio Dewanto juga main di film ini, berperan sebagai ayahnya Sancaka yang bekerja sebagai buruh pabrik.

Dari awal sampai bagian tengah pengenalan karakter Sancaka sebagai seorang yang akan jadi Gundala, saya suka banget. Tapi pengenalan karakter Pengkor (Bront Palarae) cukup memaksakan menurut saya. Pengen banget dibilang ‘mafia’ sampai harus melakukan hal itu kepada orang yang baru terpilih jadi anggota dewan.

Justru yang misterius banget itu si Ghazul (Ario Bayu). Karakter Ghazul cukup kuat di film ini daripada Pengkor. Aneh ya, padahal musuh utama Gundala di film ini tuh Pengkor. Bahkan Gundala belum pernah berhadapan langsung sama Ghazul. Tapi aura bossman lebih kuat ada di Ghazul.

Ga sabar ngeliat peran Ghazul di film-film BLCU berikutnya.

Ada banyak cameo  ‘calon superhero’ berikutnya yang akan tampil di film lainnya. Kalian bisa lihat sendiri siapa saja yang akan muncul kalo udah nonton filmnya. Yang jelas, film Gundala kali ini, ga cuman mengenalkan Gundala tapi juga sekutu dan musuh berikutnya untuk Gundala dkk.

COCOK SEKALI JADI STANDAR BAWAH FILM BLCU

Setelah nonton film Gundala, saya mencoba mencari tau info lainnya di media sosial. Dari wawancara Danang Postman di salah 1 channel youtube, cuitan sang sutradara Joko Anwar dan review dari teman-teman youtuber yang udah nonton duluan.

Salah satu cuitan Joko Anwar yang paling menarik dia bilang “Semoga #gundala bisa menjadi batas bawah untuk kelanjutan film-film BLCU berikutnya”.

Saya setuju banget akan hal ini. Karena memang kualitasnya masih jauh dari yang saya harapkan. Ga perlulah dibandingkan dengan film sekelas Marvel. Om Joko udah bilang kalo budgetnya cuman 1/1000 dari punya Marvel. Keliatan kok dari kualitas filmnya sendiri.

Jangankan dibandingin sama film-film Marvel, sama film Wiro Sableng aja masih jauh kok kualitasnya. Walaupun pemainnya ada beberapa yang ‘jebolan’ film itu juga hehehe..

Terutama dari efek CGI yang ada. Kasar banget, men! Orang awam juga tau itu hasil editan. Semoga di film berikutnya bisa lebih halus lagi atau kalo perlu, dihilangkan adegan yang mesti dipaksakan pakai CGI demi terlihat artistik. Jujur aja penonton mah ga peduli shootnya artistik atau ga, yang penting filmnya ga keliatan kayak editan. Udah.

Hal ke 2 yang cocok bikin Gundala jadi batas bawah adalah adegan berantemnya. Dari awal, adegan berantemnya canggung banget. Ngejatohinnya hati-hati sekali, kayak ga tega ngebanting temen sendiri. Tonjokan, pukulan dan adegan saling balas pukul antara Sancaka dengan musuh-musuhnya lebih keliatan kayak ‘menari’ daripada berantem.

Kayak masih menghapal gerakan koreografi gitu. Temponya aja mungkin terlalu lambat, dipercepat sedikit aja mungkin hasilnya akan keliatan beda.

Intinya untuk alur cerita bagus, tapi dari sisi aksinya kurang banget.

APAKAH GUNDALA BAGUS UNTUK DITONTON?

Meskipun banyak hal kurang mengenakkan saya tulis untuk film ini. Tapi Gundala tetap worth it (bukan worthed ya!) untuk ditonton. Aapalagi yang udah pernah baca komiknya pasti penasaran banget sama live actionnya.

review film gundala

via blog.ciayo.com

Untuk film pembuka Jagat Sinema Bumi Langit, Gundala wajib ditonton. Karna ini pertanda kelahiran idola baru di jagat perfilman Indonesia. Saya yakin akan banyak sutradara lain yang akan meniru langkah Joko Anwar ini. Karna melihat pasar film superhero di Indonesia mulai diminati.

Terbukti kok, seminggu tayang di bioskop Gundala udah tembus 1 juta penonton. Selamat!

Semoga dengan adanya blog review film ini bisa jadi pengingat buat para film maker Indonesia untuk bisa ngebuat karya yang lebih baik daripada sebelumnya. Ambil saran yang baik dari tulisan ini, dan silakan dipergunakan dengan maksimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wordpress SEO Plugin by SEOPressor
%d blogger menyukai ini: